Headlines News :
Home » » Eksploitasi Perempuan dalam Ajang Miss World 2013 | @MinieBintis

Eksploitasi Perempuan dalam Ajang Miss World 2013 | @MinieBintis

Selasa, 23 April 2013 | 23:56

intriknews.com Indonesia tahun ini pertama kalinya menjadi tuan rumah kompetisi bergengsi taraf internasional. Kontes kecantikan Miss World 2013 telah resmi akan diselenggarakan di Nusa Dua, Bali. Untuk acara puncak di malam penobatan akan dilaksanakan di Sentul Convention Center Bogor. Ditinjau dari perspertif ekonomi, kontes kecantikan dunia ini memang cukup fantastis menyedot perhatian para turis mancanegari sembari berlibur ke Indonesia.

Ajang Miss World menimbulkan berbagai spekulasi bisnis. Pengusaha sangat memiliki kepentingan dalam kontes kecantikan ini. Sebagai endorser pronsor acara, para pengusaha mengeksploitasi tubuh perempuan. Pada sisi yang lain, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki mendorong perhelatan Miss World sehingga mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Melalui propaganda seni dan bisnis, perempuan menjadi mainstream industry. Dengan tubuh tinggi, mulus, bening dan cantik menjadi landasan utama penilaian. Eksploitasi perempuan dikuasai oleh kepentingan kelompok ekonomi dominan. Secara gradual, perempuan kini masuk ke dalam pasar yang lebih besar di ranah bisnis dan seni. Namun, dibalik itu mereka tetap terdiskriminasikan sebagai tumbal gaya hidup hedonisme. Kaum kapitalis melihat keadaan ini dengan kacamata ekonomi, mengeksploitasi perempuan sebagai alat untuk melariskan usaha.

Para kontestan Miss World tidak ubahnya seperti bintang iklan sebuah produk, hanya saja dengan tampilan yang lebih mewah. Sama- sama menjadi objek sekaligus subjek bisnis. Perempuan menjadi korban ganda, ia dijadikan objek iklan atau peserta miss world, ia juga menjadi korban yang harus membeli atau menonton produk itu sendiri. Melalui acara Miss World, pengusaha sebagai endorser memberi testimonial secara langsung maupun tidak kepada produk yang mereka tawarkan.

Menurut Daoed Joesoef, wanita yang terjebak ke dalam kontes ratu-ratuan, tidak menyadari dirinya telah terlena, terbius, mereka tidak menyadari bahaya yang mengancam diri. Itu ibarat perokok atau pemadat yang melupakan begitu saja nikotin atau candu yang jelas merusak kesehatan. Perempuan lupa bahwa ia telah terperangkap dalam ekploitasi, ditindas hak tubuhnya.

Ajang Miss World merupakan momentum bagi kaum feminisme dalam membuat propaganda kesetaraan gender, namun mengapa dalam hal ini kaum feminisme liberal diam tidak berkutik, seolah menganggap bahwa hal ini bukan bagian dari penindasan. Kondisi ini bagian dari indikasi lemahnya komitmen kaum sekuler dalam memposisikan perempuan pada tempat yang terhormat.

Efektifitas perhelatan Miss World 2013 yang akan diadakan di Indonesia, perlu dikaji ulang mengingat penempatan prioritas permasalahan perempuan. Berdasarkan penuturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Linda Amalia Sari Gumelar, mengungkap keterbelakangan perempuan dibandingkan laki-laki dari segi kontribusi kepada bangsa. Dalam ranah publik dan kebijakan, masih didominasi oleh kelompok maskulin.

Ajang Miss World menjadi salah sasaran jika menggunakan kaca mata persentasi perempuan dalam ranah publik. Dalam keanggotaan legislatif posisi perempuan masih sebesar 18%, tidak sebanding dengan laki-laki yang mencapai 82%. Di level eksekutif, jumlah perempuan yang terlibat sebagai pejabat eselon 1 masih berkisar pada angka 7,8%. Oleh karena itu, dunia perlu mengkaji ulang efektivitas ajang Miss World agar menjadi solusi perbaikan perempuan di mata dunia, bukan malah semakin menyudutkan kaum hawa sebagai korban kapitalis ekonomi.

Raport buruk dunia perempuan tidak hanya dalam kepasifan dalam ranah publik dan korban eksploitasi iklan, melainkan juga menjadi sasaran traficking, TKW, PSK, tingginya AKI dan masih banyak lagi permasalahan kaum hawa. Pada 2005, sebanyak 536.000 perempuan meninggal dunia akibat masalah persalinan. Menurut data Komisi Nasional Perlindungan Anak, mencatat setiap tahun sebanyak 40 ribu hingga 70 ribu remaja perempuan di Indonesia menjadi korban sindikat perdagangan seksual. Artinya rata-rata berkisar 111 – 194 remaja putri Indonesia dijual setiap hari.

Wabah penyakit seksual juga menjangkiti perempuan. Dalam kurun enam tahun terakhir penderita HIV/AIDS mencapai 1.542 orang. Data yang ada di Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Daerah (KPAD) Kota Bogor, jumlah penderita dari kalangan perempuan diperkirakan meningkat hingga tahun 2014 sampai 28% (134 orang penderita baru). Kalau kita perhatikan, ada korelasi antara permasalahan satu dengan yang lain, mengerucut pada satu titik yaitu akibat dari eksploitasi perempuan.

Berawal dari tayangan TV yang 80% menyajikan kemulusan dan kecantikan perempuan, lalu generasi muda mencari tentang seks dalam dunia maya yang menyediakan 12 ribu situs hiburan yang menyajikan promosi sensualitas. Sebagian besar telah terintegrasi dengan perdagangan perempuan atau prostitusi. Kemudian merambah dalam dunia seks bebas, muncullah kasus- kasus amoral seperti pemerkosaan, traficking, PSK, hingga penyakit HIV /AIDS.

Lalu apakah negara ini juga akan menambah deretan virus seksualitas melalui ajang Miss World yang mempertontonkan 90% tubuh perempuan? Indonesia memang memerlukan wahana untuk mengeksplor kemampuan perempuan agar mampu berdaya untuk bangsa, namun bukan dengan mengikuti Miss World yang semakin meruncingkan masalah kaum hawa.

Westernisasi Budaya

Agustus 2012 lalu, puluhan perempuan berunjuk rasa di Kota New York, Amerika Serikat dan menuntut kebebasan bertelanjang dada. Aksi ini dianggap bagian dari hak asasi manusia. Bahkan di Negara Barat, didirikan organisasi goToples yang menaungi para perempuan bebas bertelajang dada. Dalam orasinya Maitreya Real mengatakan, “Selama para pria bebas bertelanjang dada, wanita juga harus diperbolehkan melakukan hal yang sama”.

Pemikiran itu pula yang menjadi landasan ajang Miss World menjadi moment buka- bukaan tubuh perempuan di hadapan khalayak ramai. Hal itu merupakan bagian dari kebudayaan barat sebagai kiblat modernisasi. Aneh ketika pagelaran Miss World 2013, masih mempertahankan budaya barat, karena Indonesia menjadi tuan rumah yang memiliki budaya ketimuran yang sopan.

Menanggapi hal ini Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menghimbau agar seluruh rangkaian acara dikemas sesuai dengan budaya timur Indonesia. Ahmad Heryawan juga menekankan kepada panitia Miss World 2013  agar pada kontes ini tidak ada penampilan yang tidak layak yang tidak sesuai dengan budaya timur dan menjamin bahwa pertunjukan yang akan disiarkan langsung ke seluruh Indonesia itu akan berlangsung sopan.

Merupakan tanggung jawab penguasa negeri ini untuk dapat memfilter globalisasi dan menjaga keutuhan budaya Indonesia. Hal ini akan sangat berpengaruh kepada kecintaan masyarakat dengan adat ketimuran. Sebaliknya, apabila SBY dan Ir. Jero Wacik, SE tidak mengeluarkan otoritasnya untuk menjaga adat ketimuran dalam ajang Miss World 2013, hal ini akan berefek buruk kepada moralitas anak bangsa yang kian terpuruk.

Generasi muda akan semakin gila menjadikan budaya barat sebagai kiblat modernisasi. Tidak sulit mengeluarkan kebijakan selama penguasa negeri ini memiliki komitmen membangun negeri. Karena setiap eksploitasi perempuan hanya bisa diatasi ketika kebenaran ditegakkan, termasuk keseriusan penguasa dalam menghadapi oposisi mayoritas. Indonesia kini hanya memerlukan orang-orang yang mau bekerja atas dasar kecintaan kepada negeri, bukan semata untuk kekuasaan dan kehormatan pribadi.

Rusmini Bintis | @MinieBintis
Share this post :
 
Copyright © 2011. INTRIK NEWS - All Rights Reserved